Melawan Kuasa Jari di Tengah Pandemi

Oleh : rudiwd    2020-04-29 09:01:01   198
Share :

Melawan Kuasa Jari di Tengah Pandemi

Oleh: Angga Setiyawan, S.Pd

Guru Bahasa Indonesia SMK Muhamka

Beberapa hari lalu, warganet Twitter heboh membahas kisah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dialami oleh seorang karyawan swasta. Kisah ini menjadi viral lantaran karyawan tersebut bergaji 80 juta rupiah per bulan, namun tak mampu survive setelah kena PHK. Dua bulan dirumahkan, kehidupan rumah tangganya berantakan. Penyebabnya tak lain karena selama ini keluarganya hidup berbiaya tinggi, termasuk cicilan mobil dan kredit rumah mewah senilai 3 miliar. 

Kisah tersebut hanyalah satu dari sekian banyak cerita nelangsa yang mendadak mudah kita jumpai karena dampak wabah COVID-19. Virus asal Tiongkok ini tak hanya menyerang daya tahan tubuh, tapi juga daya tahan ekonomi. CNN Indonesia melansir data dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) yang mencatat per 20 April 2020, ada total 2,08 juta pekerja dirumahkan karena PHK. Sajian data ini sudah lebih dari cukup untuk membuat kita berkaca, serta merenungkan pertanyaan ini; “siapkah jika kondisi tersebut menimpa kita?”

Faktanya, pertanyaan tersebut terlampau ngeri kita jawab bahkan untuk sekadar berandai-andai. Mayoritas dari kita saat ini belum benar-benar siap dan mempersiapkan diri jika kemungkinan terburuk itu melanda. Lantas, apa yang seharusnya kita lakukan untuk bertahan melawan serangkaian ujian selama masa pandemi ini?

 Idealnya, menumpuk pundi-pundi tabungan adalah cara paling ampuh karena tidak hanya relevan untuk bertahan di masa kini, tapi juga untuk hidup jangka panjang. Sayangnya, bagi sebagian orang yang berpenghasilan tetap bulanan dengan nominal pas-pasan, menumpuk tabungan hanyalah menumpuk asa yang jauh panggang dari api. Jangankan untuk menabung, untuk menambal sulam cicilan wajib tiap bulan saja perlu menguras pikiran dan tenaga.

Alternatif yang dilakukan sejumlah orang saat ini adalah dengan berusaha mencari penghasilan sampingan. Pilihan terbaik, tentu saja bisnis e-commerce atau jual beli secara daring. Masa karantina yang memaksa orang untuk “mendekam di rumah” saja, kini menjadi market yang sangat potensial. Maka jangan heran ketika mendapati teman-teman yang semula rajin menulis status motivasi atau kritik isu politik, kini berubah menawarkan barang dagangan. Lebih menyebalkan lagi, mereka tidak hanya mem-posting gambar yang menarik dan lucu-lucu, tapi juga tawaran harga promo yang membuat jiwa konsumtif kita meronta-ronta.

Sadar atau tidak, naluri konsumtif kita menjadi lebih sulit dikendalikan sejak muncul pandemi COVID-19. Data yang dilansir oleh Liputan6.com, perusahaan data dan kecerdasan buatan, Analytic Data Advertising (ADA) mencatat adanya kenaikan drastis aktivitas belanja online sepanjang Maret 2020. Tak tanggung-tanggung, kenaikan tersebut tercatat hingga mencapai 400%. Bagi golongan crazy rich yang bergelimang harta, perilaku over konsumtif ini mungkin tidak begitu mengkhawatirkan. Akan tetapi, bagi kelas menengah ke bawah dan para sobat missqueen, sudah sepatutnya mulai wawas diri.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara Meike Kurniawati S.Psi, MM menuturkan bahwa perilaku konsumtif merupakan salah satu bentuk ketidaknormalan perilaku konsumsi yang tentunya harus dikurangi dan bahkan sebisa mungkin dihindari, terutama oleh orang-orang dengan kemampuan finansial biasa-biasa saja. Meskipun tidak dapat dimungkiri bahwa perilaku konsumtif secara ekonomi juga membantu menggerakkan perekonomian, antara lain menambah pemasukan pajak, membuka dan mempertahankan lapangan pekerjaan, menciptakan pasar bagi para produsen barang, dan memperbesar peluang usaha baru (kompas.com).

Dua bulan menjalani masa karantina, rasanya mustahil untuk menjauh dari kejenuhan. Jadi sangat wajar jika kita sering tak sadar telah menjebak diri dalam situasi sulit; scrolling flash sale Shopee, Tokopedia, Blibli.com, atau kepo-in status Whats App dagangan teman di sela kesibukan Work From Home dan Study From Home. Dalam situasi ini, kita seolah pasrah dan dibuat tak berdaya untuk menghentikan kuasa jemari kita di atas layar ponsel. Dampaknya, alih-alih menumpuk pundi-pundi tabungan, kita justru kerepotan mengontrol laju pengeluaran.

Melihat fenomena yang terjadi saat ini, pada akhirnya pilihan untuk menentukan cara bertahan melawan krisis selama pandemi ini kembali kepada individu masing-masing. Berusaha untuk mendapat untung dan menabung lebih banyak, atau berusaha untuk bisa hidup sehemat mungkin. Paket kombo jika kita bisa menjalankan keduanya.