Warung Templok Alun-alun Kajen - SMK Muhammadiyah Kajen

Warung Templok Alun-alun Kajen

Oleh : admin    2013-10-14 23:43:36   1015

Ir. Dulsukur I Waka Kesiswaan SMK Muhammadiyah Kajen-Pekalongan

Ada hal spesial yang aku rasakan saat malam hari berada di alun-alun Kajen. Pasalnya diantara deretan lesehan yang ada terdapat warung teplok yang menjual serabi, jajan kesukaanku saat aku masih kecil ditahun tujuh puluhan. Saat itu sudah adatnya sehabis sholat isya aku dan teman-teman membeli serabi dan makan bersama sambil bercanda ala anak-anak dalam suasana temeram lampu teplok, alat penerang penduduk saat itu karena belum ada listrik. Kenangan itu hadir kembali saat aku makan serabi disini di warung teplok alun-alun Kajen.


Jajan khas Pekalongan itu terbuat dari tepung beras dicampur adonan santan dan garam dimasak pakai tungku kayu dan menggunakan cetakan khusus tak lebih 10 menit serabi dapat dinikmati. Agar lebih nikmat makanlah serabi saat hangat ditambah santan kelapa atau cairan gulajawa (kinco) pilih sesuai selera. Hawa sejuk suasana malam kota Kajen yang letaknya tidak jauh dari pegunungan menambah rasanya kian nendang.


Penjual warung itu namanya Raisah seorang janda usia 60-an tahun, beliau sudah berjualan serabi disitu selama 3 tahun. Dikatakan warung teplok karena penerangnya menggunakan lampu teplok, tempat duduknya beralas tikar, atap warung pakai plastik yang mudah dibongkar pasang. Beliau membuka dasaran selepas maghrib dan tutup jam 11 malam. Tiap malam tak kurang dari 100 tangkep serabi terjual, harga per tangkep1.500 rupiah. Kebanyakan pelanggannya orang seusiaku sekitar 40-an tahun. Saya pikir mereka punya alasan sama denganku yakni ingin menikmati nostalgia masa mudanya lalu.


Mengenang masa lalu penuh kenangan memang mendatangkan romantisme para pelakunya tak jarang berbuah kebahagiaan. Banyak orang terhibur apabila bisa mengulang masa lalunya dan dapat memberi energi baru bagi aktifitas kedepan. Untuk alasan itu banyak acara reuni diadakan, dengan alasan sama acara TV bertajuk tembang lawas kenangan mengundang minat banyak pemirsa, artinya orang perlu saluran untuk mengaktualisasikan kenangan masa lalu termasuk dalam hal menikmati jajan masa lalu.


Selain serabi banyak jajan lawas kenangan yang jarang ada penjualnya. Untuk menyebut contoh rasanya tidak sulit semisal blendung yang terbuat dari jagung pipil rebus diberi kelapa parut dan garam. Gemblong goreng yang terbuat dari ketan direbus dan ditumbuk halus hingga kenyal lalu digoreng. Adalagi getuk yakni makanan terbuat dari singkong rebus ditumbuk halus mirip gemblong. Pastinya masih banyak orang yang ingin menikmatinya khususnya kalangan tua, tapi lantaran penjualnya tidak ada maka keinginan itu tinggal keinginan.


Peluang itulah yang ditangkap Bu Raisah terbukti setiap malam warungnya tidak sepi pelanggan. Jajan lawas macam serabi memang punya keunikan karena disamping memenuhi kebutuhan rasa juga kebutuhan jiwa sekaligus. Itulah kelebihan yang tidak ada pada jajan ala kini. Itulah kenapa warung teplok bu Raisah selalu ramai pelanggan. Karena itulah jajan lawas macam serabi, gemblong, getuk dan lainnya layak untuk dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan tradisionalisnya.
Dari pemikiran itu timbul suatu pertanyaan kenapa tidak dikembangkan saja alun-alun Kajen sebagai grosir jajan lawas tempat orang melampiaskan rasa kangennya menikmati jajan tempo dulu. Disitu dibuat lapak-lapak khusus untuk penjual aneka jajan kuno, ada lesehan gemblong bakar, lesehan getuk goreng, lesehan ketan rawon, lesehan blendung, lesehan nasi jagung, lesehan nasi tumpeng dan seterusnya. Agar memberi kesan klasik bentuk warungnya meniru warung teplok bu Raisah yakni penerangnya menggunakan lampu teplok hingga memberikan ciri khas.


Lokasinya dipilih tempat strategis yakni di jalan yang melintas muka masjid Al-Muhtarom dan gedung perpustakaan daerah di bagian barat alun-alun, supaya memudahkan pelanggan yang akan sholat isya atau maghrib. Dibelakang masjid ada WC umum dan area parkir cukup luas yang dapat dimanfaatkan pelanggan. Warung-warung itu didirikan di atas teras jalan sepanjang 200 meter dan lebar 2 meter yang berpaving dan cukup lampu penerang. Selama ini lokasi itu belum dimanfaatkan untuk lesehan. Disini dapat digunakan untuk 25-50 warung dengan ukuran 2x4 meter.


Saat ini sudah banyak lesehan yang menyediakan berbagai masakan seperti nasi megono, nasi goreng, soto bebek, bakso, sate kelinci, tempe goreng, wedang jahe, wedang ronde, jagung bakar dan lain-lain. Lesehan-lesehan itu menempati tepi kanan-kiri jalan protokol. Di situ juga terdapat fasilitas permainan anak-anak seperti mandi bola, mobil-mobilan dan pancingan. Bila grosir jajan lawas bisa direalisasikan akan menjadikan alun-alun Kajen sebagai kawasan wisata kuliner dan menambah suasana malam alun-alun Kajen lebih semarak. Apalagi jika Pemda membuka layanan perpustakaan malam hari.


Grosir itu nantinya menyediakan peluang usaha baru untuk mengurangi pengangguran di kabupaten Pekalongan yang mencapai 22.000 orang. Ayo siapa ikutan Bu Raisah ? Buruan!