Memperkuat Identitas Pekalongan Kota Santri - SMK Muhammadiyah Kajen

Memperkuat Identitas Pekalongan Kota Santri

Oleh : admin    2013-10-14 23:40:09   1346

Ir. Dulsukur I Waka Kesiswaan SMK Muhammadiyah Kajen-Pekalongan


Setahun lalu anak saya pindah dari sebuah SD Negeri di Kota Pekalongan ke SD Negeri di Kabupaten Pekalongan. Ada beberapa perubahan aturan sekolah di SD baru antara lain pakaian, karena anak saya puteri, di SD lama memakai busana muslimah merah putih celana panjang ,baju lengan panjang lengkap kerudung putih, sedang di SD baru seragam layaknya sekolah umum, baju lengan pendek , celana sebatas lutut dan tanpa kerudung. Di SD lama ada tambahan baca tulis Al-qur’an (BTQ) mulai jam 06.30-07.00 sedang di SD baru tidak ada. Saya maklum hal itu karena ada beda kebijakan. Pemkot Pekalongan mengadakan tambahan jam BTQ dan aturan busana muslim bagi siswa Islam di wilayahnya sedang Pemkab Pekalongan tidak ada, sehingga saya berharap Pemkab Pekalongan dapat menerapkan sebagaimana Kota Pekalongan. Tambahan BTQ sangat perlu mengingat pendidikan Islam di sekolah umum masih minim, lagi pula TPQ di musola kami tempat anak saya belajar BTQ juga kekurangan tenaga pengajar, dan memang secara umum kualitas TPQ di Kabupaten Pekalongan masih perlu peningkatan. Jadi pendidikan Islam di Kabupaten Pekalongan masih perlu mendapat perhatian lebih. Demikian pula busana muslimah perlu dibiasakan sejak usia dini hingga nilai-nilai Islam dapat diimplementasikan dalam keseharian, agar moto Kabupaten Pekalongan Kota Santri bukan slogan belaka.


Kata Santri menurut kamus besar bahasa Indonesia artinya murid yang belajar Islam kepada kyai atau orang yang menjalankan Islam secara sungguh-sungguh. Kota Santri dengan demikian artinya Kota Pelajar Islam dengan situasi sekolahnya bernuansa Islam atau wilayah yang kental dengan nilai Islam. Situasi Kota Santri digambarkan Nasida Ria dalam sair lagu Kota Santri sebagai berikut ” Suasana di kota santri, asyik tenangkan hati, muda-mudi berbusana rapi, menyandang kitab suci, mengaji ilmu agama bermanfaat di dunia bermanfaat di akherat dan seterusnya”.Kalau melihat kondisi real seperti contoh situasi SD baru anak saya di atas, banyak orang masih meragukan predikat Santri bagi Kabupaten Pekalongan. Apalagi masih terdapat lokalisasi ”Gang Solar” di Kecamatan Karanganyar sebagai tempat mesum yang sudah dikenal secara umum.


Namun Bupati Qomariah pada suatu kesempatan mengatakan bahwa moto Kota Santri bukan sekedar slogan tetapi didukung nilai kesantrian yang kental, misalnya jumlah pondok pesantren ada 107, jumlah majelis taklim 405, jumlah masjid 730, jumlah mushola 4730, jumlah langgar 2334, jumlah TPQ 912.


Penulis juga mencatat ada puluhan sekolah Muhammadiyah dan NU dari TK sampai Perguruan Tinggi dengan puluhan ribu jumlah siswa. Juga terdapat kyai karismatik, KH. Taufik dengan pengajian rutin malam kamis dan selasa pagi yang pengikutnya ribuan. Selain itu unsur santri mendominasi Pemerintahan , Bupati Pekalongan berasal dari PKB, jumlah Dewan unsur santri yakni PKB, PPP, PKNU, PAN ada 23 dari 45 anggota, terdapat puluhan grup seni Islam rebana, olah raga Islam seperti Tapak Suci, kepanduan Islam, rumah sakit Islam, lembaga keuangan Islam.


Dari data itu menurut penulis setidaknya sudah ada modal dasar cukup, meski belum tercapai ideal Kota Santri sesuai harapan. Pemda bersama masyarakat perlu bekerjasama mewujudkan harapan itu. Contoh banyak masjid kurang jamaah saat waktu sholat tiba. Padahal sholat itu tiang agama maka sholat jamaah di masjid semestinya jadi budaya Kota Santri. Menurut sejarah masyarakat Islam di zaman Rasul juga dibangun dari Masjid. Jadi budaya shalat jamaah di masjid harus diwujudkan melalui pendidikan agama di sekolah karena keberadaan sekolah merata di semua kecamatan hingga nantinya nilai Islam dipahami dan diamalkan merata.


Sebagai sekolah di Kota Santri, negeri atau swasta harus punya ciri keislaman, misalnya pelajaran diawali tadarus Al-Qur’an, saat istirahat pagi diisi sholat dhuha, siang hari diadakan sholat Dzuhur berjamaah, menanamkan etos kerja dan etos doa, membiasakan berbusana muslim, silaturahim, sodakoh, sopan santun dan ahklakul karimah. Menurut pengalaman penulis siswa akan mempraktekan apa yang diperoleh di sekolah mereka. Menurut hemat penulis sekolah merupakan tempat yang paling tepat untuk memupuk budaya”Santri” di Kabupaten Pekalongan.


Tak kalah penting, para pemimpin hendaknya memberi teladan sebagai pemimpin Kota Santri misalnya jajaran Bupati dan DPRD saat Dzuhur bersama-sama berjamaah sholat di Masjid Al Muhtarom yang letaknya satu komplek dengan perkantoran Pemda, hal ini pasti akan dicontoh oleh masyarakat. Demikian juga menjelang Pilkada 1 Mei nanti elit politik supaya bermain secara Islami agar pengalaman Pilkada 2006 yang merusak citra Kota Santri dapat dihindari. Bupati dan Wakil Bupati periode mendatang hendaknya mampu memperkuat identitas santri bagi kabupaten Pekalongan.