Sertifikasi Guru Dan Modul - SMK Muhammadiyah Kajen

Sertifikasi Guru Dan Modul

Oleh : admin    2013-10-14 23:47:53   687

Ir. Dulsukur I Waka Kesiswaan SMK Muhammadiyah Kajen-Pekalongan

Modul saat ini banyak digunakan sebagai buku pegangan siswa dari SD hingga SMA/SMK dalam mempelajari materi pelajaran. Hampir tiap mata pelajaran terdapat modulnya. Dapat dikatakan bahwa siswa sebagian besar kalau tidak dikatakan seluruhnya memperoleh informasi pelajaran dari modul tersebut. Adanya modul yang berkualitas dengan demikian sangat penting untuk meningkatkan kualitas hasil belajar siswa.

Modul yaitu materi pelajaran yang disusun dan disajikan secara tertulis sedemikian rupa sehingga pembacanya diharapkan dapat menyerap dan mempelajari sendiri materi tersebut. Penulisan modul yang bermutu oleh guru adalah langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sehingga diharapkan setiap guru mampu menyusun modul yang berkualitas dari segi isi dan penyampaiannya sesuai mata pelajaran yang diampu. Tetapi pada kenyataannya sedikit sekali guru yang menyusun modul pelajaran.

Modul yang saat ini banyak digunakan adalah modul yang disusun dan dipasarkan oleh penerbit. Melalui tenaga pemasarannya, para penerbit itu gencar mempromosikan modul kepada guru mata pelajaran untuk dipakai siswa. Dan umumnya para guru dengan senang menerima tawaran ini karena memang sangat membantu tugas guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Disamping itu guru yang bersangkutan akan mendapat kompensasi uang dari penerbit, sehingga guru kadang “setengah memaksa” murid membeli modul. Ya, memang modul sudah menjadi komoditas dagang.

Meskipun kehadiran modul yang ditawarkan penerbit itu dirasakan manfaatnya, tetapi pada sisi lain berpengaruh pada proses kreatifitas guru dalam menyampaikan materi pelajaran menjadi kurang berkembang optimal karena guru menjadi modul centris yang disediakan penerbit. Padahal yang diharapkan guru dapat menyusun modul sendiri.

Selain itu isi modul tersebut kurang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan terkini, karena modul tentunya disusun penerbit jauh hari sebelum materi disampaikan di kelas, sementara perkembangan ilmu pengetahuan sedemikian cepatnya. Bahkan banyak modul yang beredar terkesan kejar tayang, sebagai contoh penulis sering menjumpai kunci jawaban soal yang diberikan penerbit tidak sesuai dengan soal pada modul sehingga kalau guru tidak teliti bisa kecele. Modul tersebut juga kurang mengakomodasikan muatan lokal, karena penerbit yang berlokasi di Solo misalnya, jelas tidak menguasai persoalan lokal di tiap daerah, sehingga isinya menjadi kurang relevan dengan persoalan aktual yang dihadapi siswa.

Praktek penggunaan modul saat ini juga dirasakan menambah beban biaya yang ditanggung siswa. Muncul ungkapan bahwa modul yang di kalangan siswa dikenal LKS itu sebagai Lembar Kesengsaraan Siswa. Walaupun harga per modul rata-rata Rp. 5000,- tetapi karena jumlah modul yang dibeli banyak, siswa merasa berat juga. Satu semester umumnya tidak kurang dari 10 judul modul yang harus dibeli siswa. Lagi pula modul biasanya sekali pakai setelah itu menjadi sampah, tidak ramah lingkungan.

Dengan alasan tersebut sudah seharusnya guru membuat modul sendiri secara kreatif dengan materi disesuaikan perkembangan iptek terkini dan bermuatan lokal. Disampaikan dengan bahasa yang menjadi gaya bahasa siswa dan urutan penyampaiannya disesuaikan dengan rencana pembelajaran (RPP) yang dibuat guru.

Modul yang disusun oleh guru tersebut diperbanyak sekolah sesuai jumlah siswa dan kemudian dipinjamkan kepada siswa melalui perpustakaan sekolah selama satu semester, setelah itu dikembalikan untuk digunakan oleh adik kelas. Jadi siswa akan menerima materi ajar yang bermutu dan gratis. Dan sekaligus akan menghapus keluhan orang tua siswa selama ini berkaitan pembelian modul tersebut.
Ciri khas modul adalah tersedianya berbagai petunjuk yang lengkap dan rinci agar peserta didik mampu menggunakan modul dalam membelajarkan diri mereka sendiri. Ada lima belas hal yang seharusnya tersaji pada rancangan modul yang lengkap yaitu judul, pengantar, petunjuk penggunaan, tujuan umum pembelajaran, kemampuan prasarat, pretest, tujuan khusus pembelajaran, kegiatan pembelajaran, rangkuman, tes, sumber media, tes akhir dan umpan balik, remedial, daftar Pustaka.

Penyusunan modul dilengkapi perangkatnya yang terdiri dari buku petunjuk siswa, buku isi materi jawaban, buku kerja siswa, buku evaluasi dan buku pegangan tutor. Satu modul biasanya untuk waktu penyelesaian belajar antara 1-3 minggu, umumnya satu modul menyajikan satu topik materi bahasan yang merupakan satu unit program pembelajaran tertentu.

Minimnya guru yang membuat modul dikarenakan belum mengerti teknis pembuatannya, penguasaan materi yang kurang, tidak ada kemauan dan keterbatasan waktu. Adanya sertifikasi guru harus dapat mengatasi persoalan tersebut sehingga sertifikasi guru manfaatnya langsung dirasakan masyarakat.
Agar dapat membuat modul, guru harus banyak membaca untuk memperkaya pengetahuan di bidang tugasnya. Misalnya berkomitmen terhadap dirinya sendiri untuk membaca sedikitnya satu buku terbaru setiap sebulan. Selain itu juga mencari informasi dari internet, peka terhadap lingkungannya dan mengambil informasi dari media masa, lebih bagus lagi kalau guru mau mengadakan penelitian.

Guru juga harus berusaha untuk menguasai pengoperasian komputer karena sangat membantu dalam proses pembuatan modul dan karya ilmiah lainnya. Berusaha terus menggali pengalaman dari guru lain yang sudah lebih berpengalaman. Sebagian uang yang diterima guru dari sertifikasi mestinya dialokasikan guru yang bersangkutan untuk pengembangan diri seperti kursus komputer, membeli laptop sebagai media pembelajaran dan membeli buku-buku. Hal ini perlu disampaikan karena masih banyak guru yang lulus sertifikasi tetapi tidak menguasai media pembelajaran atau mengidap TBC (Tidak Bisa Komputer).

Guru yang sudah memperoleh tunjangan sertifikasi hendaklah membuat modul sebagai bentuk pertanggungjawaban moral, sedang guru yang belum memperoleh tunjangan sertifikasi harus lebih tertantang membuat modul untuk membuktikan kompetensinya sehingga pada saatnya pun layak memperoleh tunjangan sertifikasi pula.

Untuk meningkatkan kompetensi guru melalui penulisan modul upaya yang dapat dilakukan pihak terkait adalah sebagai berikut : Pertama peningkatan kualitas SDM melalui bimbingan karir. Dalam hal ini Pemerintah perlu menyusun program jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Program jangka pendek dalam bentuk penataran, orientasi, konsultasi, evaluasi, seminar, kursus penulisan modul bagi para guru. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan wawasan, ketrampilan dan saling bertukar informasi.

Program jangka sedang berupa pendidikan dan pelatihan untuk para pembina penulisan modul, yang akan menularkan kemampuannya kepada guru lainnya. Program jangka panjang dapat dilakukan dengan memberikan bea siswa bagi guru potensial untuk melanjutkan studi dalam bidang terkait penulisan modul sehingga nantinya tersedia para ahli.

Kedua, peningkatan sarana dan prasarana pendukung. yang menunjang kegiatan penulisan modul misalnya tersedia perpustakaan dengan jumlah buku sesuai standar, akses internet dan komputer. Ketiga, peningkatan kesejahteraan seluruh guru baik PNS maupun guru swasta agar para guru dapat bekerja secara optimal.



Pengunjung
  • Hari ini 57
  • Kemarin 130
  • Bulan ini 1.729
  • Tahun ini 37.936
  • Hit counter hari ini 208
  • Total hit counter 635.135
  • Pengunjung Online 3